Senin, 02 Juli 2007

KAMPANYE UNTUK MATA UANG EMAS

Dalam perdebatan manapun tentang emas dan perak, kendati telah sering disangkal sebelumnya namun penentang kebebasan moneter acap kali mengemukakan beberapa keberatan tertentu. Keberatan-keberatan itu diantaranya:

• Emas yang ada tidak cukup;
• Rusia dan Afrika Selatan akan diuntungkan, karena keduanya adalah penghasil utama emas;
• Emas menjadi sasaran dampak spekulasi yang tidak diinginkan;
• Emas mengalami ketidak stabilan harga.

Anggapan pertama, yakni emas yang ada tidak cukup, dilandasi oleh kekeliruan atas harga emas. Anggapannya adalah kurs tukar emas dengan uang-kertas saat ini harus menjadi kurs tukar yang berlaku jika emas dijadikan alat tukar. Padahal jelas bukan itu masalahnya. Sederhana saja, jika mata uangnya adalah emas maka harga-harga yang lebih kecil akan menghapus kebutuhan untuk jumlah yang lebih besar. Contohnya, dengan kurs tukar yang berbeda sebuah baju seharga Rp. 2,000,000 satuan kertas dapat dibeli dengan 3-4 dinar emas saja.

Keberatan kedua yang menyangkut Rusia dan Afrika Selatan sama-sama tidak beralasan. Emas dapat dianggap sebagai keuntungan, sama halnya seperti minyak ataupun tanah subur. Dalam 2000 tahun terakhir, jumlah seluruh emas yang telah digali telah melebihi cadangan emas Rusia dan Afrika Selatan yang meski tersohor namun masih belum tercetak. Cadangan emas Rusia yang belum tercetak diperkirakan sekitar 250 juta ons, lebih sedikit dari cadangan emas Amerika Serikat yang sudah tercetak. Dalam saham-saham resmi saja (tidak termasuk milik pribadi), jumlah seluruh emas yang tercetak menurut IMF dapat diperkirakan sebesar 1.100 juta ons. Adanya permintaan emas sebagai alat tukar akan menarik keluar emas yang ditimbun, suatu proses yang sedang digandrungi kebanyakan bank sentral. Jadi seharusnya yang ditakuti adalah kenaikan besar-besaran pasokan uang-kertas yang akan menggiring kita pada dekade inflasi tinggi berikut seperti di era tahun 1970-an.

Keberatan ketiga , yakni emas menjadi sasaran dampak spekulasi sehingga terlalu goyah untuk digunakan sebagai alat tukar, juga salah. Selama tahun 1970-an, emas malah menjadi benteng utama terhadap inflasi. Harga emas yang membumbung dari $35 sampai $850 per ons merupakan hasil dari kekhawatiran atas nilai uang-kertas dan krisis internasional yang berkembang, dan khalayak yang keberatan atas emas karena sifatnya yang spekulatif telah mencampuradukkan antara sebab dengan akibat. Spekulasi yang sebenarnya dipicu oleh sistem uang-kertas yang tak dapat ditukar kembali dan khalayak yang secara logis ingin melindungi dirinya sendiri dari sistem itu.

Keberatan keempat yaitu emas akan mengalami ketidakstabilan harga. Bandingkan harga emas AS tahun 1833 dengan tahun 1933, yakni menjelang dilepaskannya standar emas domestik. Ternyata, dalam 100 tahun indeks harga komoditas borongan hanya naik 0,9%! Namun sejak itu, saat Presiden Nixon di tahun 1971 menyatakan kebangkrutan internasional dan mengumumkan tak ada lagi emas yang akan diberikan untuk dolar yang ditukar, indeksnya telah melonjak 350%. Dan dalam 20 tahun terakhir indeksnya meroket lagi sekitar 400%.

Dengan demikian emas stabil, layak untuk dijadikan uang, dapat diaplikasikan kapanpun dan dimanapun, dan sejarah telah membukakan mata kita bahwa tak ada uang yang lebih goyah dan lebih tak layak selain uang-kertas.

Tidak ada komentar: